EDUKASI SENAM KAKI DIABETIK SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KOMPLIKASI DIABETES MELITUS BERBASIS MASYARAKAT
Keywords:
Senam Kaki Diabetik, Promosi Kesehatan, Pencegahan, Program MultidisiplinAbstract
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran perawatan kaki diabetik serta mendorong praktik pencegahan melalui edukasi senam kaki yang terstruktur bagi individu yang berisiko mengalami komplikasi. Inisiatif ini berfokus pada pemberdayaan peserta dengan keterampilan praktis untuk meningkatkan sirkulasi darah, menambah fleksibilitas, dan menurunkan kemungkinan munculnya gejala neuropati. Tim multidisiplin merancang sesi pembelajaran interaktif yang mengintegrasikan promosi kesehatan, demonstrasi, dan praktik terpandu. Refleksi kualitatif dari para peserta menunjukkan peningkatan pemahaman, motivasi yang lebih kuat untuk menerapkan perawatan kaki secara rutin, serta kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam mengelola perilaku kesehatan sehari-hari. Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara institusi akademik dan tenaga kesehatan komunitas, sehingga mendukung jalur edukasi berkelanjutan untuk manajemen penyakit kronis. Secara keseluruhan, program ini memberikan wawasan penting mengenai strategi pencegahan yang dapat diterapkan di lingkungan masyarakat untuk mendukung kesejahteraan jangka panjang pada kelompok yang rentan terhadap komplikasi diabetes.
Downloads
References
(1). Anindita, S., et al. (2022). Pengaruh edukasi gaya hidup terhadap kadar gula darah. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 10(1), 77–84.
(2). Clark, N. M., & Gong, M. (2008). Management of chronic disease by practitioners and patients: Are we teaching the wrong things? BMJ, 326(7379), 1080–1082.
(3). Davies, M. J., et al. (2022). Management of hyperglycemia in type 2 diabetes: A consensus report by the American Diabetes Association (ADA) and the European Association for the Study of Diabetes (EASD). Diabetes Care, 45(11), 2753–2786. https://doi.org/10.2337/dci22-0034
(4). Eagly, A. H., & Wood, W. (2012). Social role theory. In Handbook of Theories in Social Psychology.
(5). Institute for Healthcare Improvement. (2020). Person- and family-centered education framework. Cambridge, MA. https://www.ihi.org
(6). Leventhal, H., Brissette, I., & Leventhal, E. A. (2003). The common-sense model of self-regulation of health and illness. In Cameron, L. D., & Leventhal, H. (Eds.), The self-regulation of health and illness behaviour. Routledge.
(7). Noar, S. M. (2021). Tailored health communication: Theory and practice in modern public health. Health Communication, 36(2), 151–158. https://doi.org/10.1080/10410236.2020.1839203
(8). Oktaviani, N., et al. (2020). Pengaruh edukasi terhadap pengetahuan dan sikap pasien diabetes. Jurnal Edukasi Kesehatan, 8(1), 21–29.
(9). Prasetya, D., et al. (2021). Efektivitas edukasi perawatan kaki pada pasien diabetes. Jurnal Keperawatan Medikal Bedah, 9(2), 63–70.
(10). Sari, R. P., et al. (2021). Hubungan gender dengan partisipasi kegiatan posbindu. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 9(2), 115–120.
(11). Sweller, J., van Merriënboer, J. J. G., & Paas, F. (2021). Cognitive architecture and instructional design: Twenty years later. Educational Psychology Review, 33, 325–349. https://doi.org/10.1007/s10648-020-09579-4
(12). Siemens, G., & Downes, S. (2021). Connectivism and constructivism in health learning systems. Journal of Learning Analytics, 8(1), 23–35. https://doi.org/10.18608/jla.2021.811
(13). Yuliana, D. (2020). Partisipasi masyarakat dalam program posyandu di perkotaan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 15(1), 45–52.











