Implementation of Village-Owned Enterprise (BUMDes) Management Policy in Majalengka Regency
Keywords:
Policy Implementation, Local Government, Village, Village-Owned Enterprises (BUMDes)Abstract
The purpose of this study is to identify and analyze the implementation of policies for managing Village-Owned Enterprises (BUMDes), the supporting and inhibiting factors in the implementation of these policies, as well as the efforts made to overcome the inhibiting factors in Majalengka Regency. The theory used as an analytical framework in this study is the policy implementation theory of Van Meter and Van Horn, which emphasizes six main factors: policy standards and objectives, resources, characteristics of implementing organizations, attitudes or dispositions of implementers, inter-organizational communication, and the economic, social, and political environment. This study employs a qualitative approach, with data collection techniques including interviews, observations, and documentation. Data analysis is conducted through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The informants in this study include the Regent of Majalengka Regency, the Chairperson of Commission I of the Regional House of Representatives (DPRD) of Majalengka Regency, the Sub-district Head of Majalengka, the Village Heads of Cibodas, Sidamukti, Kawunggirang, and Kulur, BUMDes administrators, as well as MSME actors in the research locations. The research locations are focused on Cibodas Village (BUMDes Bina Jaya), Sidamukti Village (BUMDes Rahayu), Kawunggirang Village (BUMDes Kawungwangi), and Kulur Village (BUMDes Tirma). The results of the field study indicate that the implementation of BUMDes management policies in Majalengka Regency has not been carried out optimally. This is due to limited human resources, weak managerial capacity of BUMDes administrators, limited capital, low community participation, and suboptimal guidance and supervision from both local and village governments. In addition, issues remain in policy communication, implementers’ perceptions, and bureaucratic structures that have not fully supported professional and sustainable BUMDes management. The SWOT analysis results show that strengthening human resource capacity, improving institutional governance and monitoring-evaluation systems, optimizing village economic potential, reinforcing the commitment of policy implementers, and enhancing coordination among stakeholders are key strategies to improve the effectiveness of BUMDes policy implementation as an instrument for empowering the village economy.
References
Barzelay, M., & Armajani, B. J. (2004). Breaking through bureaucracy. In J. M. Shafritz, A. C. Hyde, & S. J. Parkes (Eds.), Classics of public administration (5th ed.). Thomson & Wadsworth.
Bintarto, R. (1986). Desa-kota. Alumni.
Brown, H. (2008). Knowledge and innovation: A comparative study of the USA, the UK, and Japan. Routledge.
Dunn, W. N. (2003). Public policy analysis: An introduction [Terjemahan ISIPOL]. Gadjah Mada University Press.
Dye, R. T. (1987). Understanding public policy. Prentice Hall.
Gerston, L. N. (1992). Public policy making in a democratic society: A guide to civic engagement. M. E. Sharpe.
Hayden, G., & Court, J. (2002). Governance and development: World governance survey (Discussion Paper 1). United Nations University.
Department for Communities and Local Government. (2006). Innovation and its contribution to improvement: A review for policy-makers, policy advisers, managers and researchers. Department for Communities and Local Government.
Hamdi, M. (2014). Kebijakan publik: Proses analisis dan partisipasi. Ghalia Indonesia.
Irawan, S., & Hasan, H. (2015). Kebijakan publik. Graha Ilmu.
Istianto, B. (2011). Manajemen pemerintahan (dalam perspektif pelayanan publik). Mitra Wacana Media.
Labolo, M. (2007). Memahami ilmu pemerintahan. Kelapa Gading Permai.
Legino, S. (2009). Menjawab tantangan reformasi birokrasi: Kepemimpinan transformasional dan organisasi lateral. Indonesia Press.
Leo, A. (2017). Dasar-dasar kebijakan publik. Alfabeta.
Margono, B. (2003). Pembaharuan perlindungan hukum. Inti Ilmu.
Ndraha, T. (2000). Ilmu pemerintahan (Jilid I). BKU Ilmu Pemerintahan kerja sama IIP-UNPAD.
Ndraha, T. (2003). Kybernology I (Ilmu pemerintahan baru). Rineka Cipta.
Ningrat, B. S. (1992). Mengenal ilmu pemerintahan. Rineka Cipta.
Ripley, R. B., & Franklin, G. A. (1982). Policy implementation and bureaucracy. The Dorsey Press.
Shafritz, J. M., & Russell, E. W. (1999). Introducing public administration. Longman.
Simangunsong, F. (2017). Metodologi penelitian pemerintahan. Alfabeta.
Supriyanto, B. (2009). Manajemen pemerintahan (Plus dua belas langkah strategis). Media Brilian.
Suryadinata, E. (1996). Sistem informasi manajemen dan proses pengambilan keputusan. Ramdan.
Syafiie, I. K. (2011). Sistem pemerintahan Indonesia. Rineka Cipta.
Tamin, F. (2004). Reformasi birokrasi: Analisis pendayagunaan aparatur negara. Belantika.
Thoha, M. (2003). Birokrasi dan politik di Indonesia. RajaGrafindo Persada.
Wahab, S. A. (2008). Analisis pengantar kebijakan publik. UMM Press.
Winarno, B. (2014). Kebijakan publik: Teori, proses, dan studi kasus. CAPS.
Widodo. (2013). Analisis kebijakan publik: Konsep dan aplikasi analisis proses kebijakan publik. Bayu Media.
Kania, I., Anggadwita, G., & Alamanda, D. T. (2021). A new approach to stimulate rural entrepreneurship through Village-Owned Enterprises in Indonesia. Journal of Enterprising Communities: People and Places in the Global Economy, 15(3), 432–450.
Kurniadi, A., Rao, D. G., & Subantoro, S. (2021). Pembangunan desa melalui Badan Usaha Milik Desa: Studi fungsi manajemen pada BUMDes Sukamanah. Jurnal Administrasi dan Manajemen, 11(2), 83–89.
Kusmulyono, M. S. (2023). Determinant factors of Village-Owned Enterprise best practice. Agraris: Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi, 20(2).
Mulianingsih, S. (2022). Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung pengentasan kemiskinan desa. Jurnal Registratie, 4(1), 10–21.
Nurgiarta, D. A., & Rosdiana, W. (2019). Pemberdayaan masyarakat melalui program inovasi desa (PID) di Desa Labuhan Kecamatan Berondong Kabupaten Lamongan. Jurnal Ilmu Sosial dan Hukum, 7(1), 1–8.
Sari, A., & Ilham, T. (2024). A deep dive into the success of joint Village-Owned Enterprises (Joint-BUMDes) in Indonesia: An Interpretive Structural Modeling (ISM) approach. Jurnal Bina Praja, 16(1), 215–233.
Tiza, A. L., Hakim, A., & Haryono, B. S. (2014). Implementasi program pembangunan desa mandiri anggaran untuk rakyat menuju sejahtera (Anggur Merah): Studi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara. Wacana, 17(2), 58–67.
Thahir, B., Wasistiono, S., Teguh, P., & Ginting, A. H. (2020). Penggunaan dana desa tahun 2015–2018 dan strategi pendampingannya (Studi di Kabupaten Garut Kabupaten Majalengka). Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja, 46(1), 280–290.
Ultari, T., & Khoirunurrofik. (2024). The Role of Village-Owned Enterprises (BUMDes) in village development: Empirical evidence from villages in Indonesia. Jurnal Perencanaan Pembangunan (Bappenas), 8(2).
Van Meter, D. S., & Van Horn, C. E. (1975). The policy implementation process: A conceptual framework. Administration & Society, 6(4), 445–488.
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010 tentang Badan Usaha Milik Desa.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, serta Pembubaran Badan Usaha Milik Desa.
Pemerintah Kabupaten Majalengka. (2006). Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 3 Tahun 2006 tentang Pedoman Umum Pembentukan Badan Usaha Milik Desa.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2022). Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 8 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa.
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Republik Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa.Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 8 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka. (2024). Kecamatan Majalengka dalam angka 2024. BPS Kabupaten Majalengka. Retrieved September 26, 2024, from https://majalengkakab.bps.go.id/id/publication/2024/09/26/c99d0646ea42a2b1d207e1eb/kecamatan-majalengka-dalam-angka-2024.html
Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka. (2024, November 19). Keadaan ketenagakerjaan Kabupaten Majalengka—2024 [Press release]. Retrieved May 7, 2025, from https://majalengkakab.bps.go.id/id/pressrelease/2024/11/19/1780/keadaan-ketenagakerjaan-kabupaten-majalengka-2024.html
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Wilayah Majalengka. (2025). Informasi publik dan program kementerian. https://kemendesamajalengka.org/
Open Data Kabupaten Majalengka. (2024). Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Majalengka. Pemerintah Kabupaten Majalengka. https://opendata.majalengkakab.go.id/organisasi/dpmd
Open Data Kabupaten Majalengka. (2024). Jumlah BUMDes aktif berdasarkan kecamatan di Kabupaten Majalengka. Pemerintah Kabupaten Majalengka. https://opendata.majalengkakab.go.id/dataset/jumlah-bumdes-aktif-berdasarkan-kecamatan-di-kabupaten-majalengka
Pemerintah Kabupaten Majalengka. (2024). Kabupaten Majalengka dalam angka 2024. Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka. https://majalengkakab.bps.go.id/id/publication/2024/09/26/c99d0646ea42a2b1d207e1eb/kecamatan-majalengka-dalam-angka-2024.html
Pemerintah Kabupaten Majalengka. (2024). Majalengka Regency. In Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Majalengka_Regency
Wasistiono, S. (2021). Model Desa Cerdas Mandiri (Smart and Autonomous Village) menuju Masyarakat 5.0 (Society 5.0) di Kabupaten Sumedang. Bappeda Kabupaten Sumedang.











